Tafsir Al-Anbiya' 83-84: Nabi Ayub A.S. Mengeluh?

Tafsir Al-Anbiya Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie.

Dianggap sebuah keluhan, memang ada pantasnya. Karena sejatinya ungkapan tersebut sia-sia saja di hadapan Tuhan. Ya, sebab Dia maha mengetahui dan sudah mengetahui. Lalu untuk apa kalimat itu diungkapan?

Kedua, jika saja itu sebuah keluhan, maka juga wajar. Sebab, Ayub adalah manusia. Toh, bahasanya sebatas kalam khabar, sekadar informasi saja. Lagian, mengabarkan kondisi diri seperti sakit tidak serta merta dikatakan sebagai mengeluh atau meminta tolong.

Seperti anda yang mengabarkan bahwa sekarang anda sedang lelah, tidak enak badan, dan lain-lain.

Akan tetapi, umumnya ulama memandang tesis di atas adalah doa, bukan keluhan. Doa dengan caranya sendiri, cara orang-orang mulia di hadapan Dzat yang Maha Mulia, di hadapan Dzat Maha Mengerti, di hadapan Dzat Yang Maha belas kasih. "Wa anta arham al-Rahimin".

Di hadapan Dzat Yang maha mengerti tidak diperlukan kalimat yang jelas, apalagi panjang dan lebar. Justru degan bahasa yang jelas malah membatasi isinya.

Nabi Ayub A.S. menggunakan "bahasa serah", bahasa yang membias dan dibiarkan serta diserahkan total ke hadapan-Nya. Biar Dia Sendiri yang menerjemah.

Dasarnya adalah: pertama, Ayub A.S. dinobatkan oleh Tuhan sebagai hamba yang sabar, sangat bagus dan selalu bersimpuh di hadapan-Nya, "inna wajadnah shabira, ni’ al-abd, innah awwab" (Shad:44).

kedua, setelah Tuhan mengungkap ungkapan nabi Ayub A.S. tersebut (83), ayat berikutnya bertutur tentang respons Tuhan terhadap ungkapan nabi Ayub tadi, yakni: "fa istajabna lah...". Maka Kami kabulkan permohonan Ayub tadi (84).

Kalimat "fa istajabna" pada konteks ini tidak ada tafsir lain, kecuali sebuah ijabah terhadap doa. Allah a’lam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO