Deretan Gerhana Matahari Langka Warnai Langit Dunia Mulai 2026

Deretan Gerhana Matahari Langka Warnai Langit Dunia Mulai 2026

SURABAYA,BANGSAONLINE.com - Tahun 2026 diprediksi menjadi awal periode langit spektakuler dengan deretan gerhana Matahari langka, termasuk tiga gerhana total dan tiga gerhana cincin api dalam rentang waktu kurang dari tiga tahun.

Fenomena ini bahkan disebut para astronom sebagai “zaman emas” gerhana Matahari karena jarangnya kemunculan rangkaian gerhana total dan annular dalam waktu yang berdekatan.

Mengutip Space, Senin (5/1/2026), sepanjang Agustus 2026 hingga Juli 2028 Bumi akan mengalami tiga gerhana Matahari total dalam kurun 710 hari. Runtutan tersebut tergolong sangat jarang dalam sejarah astronomi modern.

Rangkaian gerhana ini memberi peluang luas bagi pengamat langit di berbagai belahan dunia untuk menyaksikan momen ketika Bulan menutupi Matahari secara sempurna.

Tiga gerhana Matahari total yang akan terjadi adalah pada 12 Agustus 2026, 2 Agustus 2027, dan 22 Juli 2028. Gerhana total pada 12 Agustus 2026 akan melintasi Siberia, Greenland, Islandia, hingga Spanyol utara, dan menjadi gerhana total pertama yang terlihat dari Eropa sejak 2015. Gerhana 2 Agustus 2027 bahkan dijuluki “eclipse of the century” karena durasi totalitasnya dapat mencapai 6 menit 22 detik saat melintasi Spanyol selatan, Afrika Utara, dan Timur Tengah. Sementara itu, gerhana total 22 Juli 2028 akan melintasi Australia dan Selandia Baru, dengan Sydney masuk jalur totalitas untuk pertama kalinya sejak 1857.

Selain gerhana total, periode ini juga diwarnai tiga gerhana Matahari cincin api atau annular yang menampilkan efek “ring of fire”, ketika Matahari tampak seperti cincin cahaya di sekeliling Bulan.

Tiga gerhana cincin api tersebut masing-masing terjadi pada 17 Februari 2026 di wilayah Antartika, 6 Februari 2027 yang dapat disaksikan dari sebagian Amerika Selatan dan Afrika Barat, serta 26 Januari 2028 yang terlihat dari beberapa wilayah Ekuador, Brasil, Spanyol, dan Portugal.

Rangkaian fenomena ini menjadi daya tarik besar bagi pemburu gerhana. Pasalnya, sebagian orang biasanya hanya berkesempatan menyaksikan satu gerhana Matahari total seumur hidup, sementara periode 2026–2028 menawarkan enam peristiwa dalam waktu relatif singkat.

Fenomena tersebut berkaitan dengan siklus Saros, yakni pola astronomi yang mengatur kemunculan gerhana berdasarkan posisi Matahari, Bumi, dan Bulan. Siklus ini menghasilkan pola gerhana serupa setiap sekitar 18 tahun.

Meski tidak semua wilayah dapat menyaksikannya, sejumlah kawasan diprediksi menjadi lokasi ideal pengamatan, seperti Eropa Utara dan Spanyol pada gerhana 2026, Afrika Utara dan Timur Tengah pada 2027, serta Australia dan Selandia Baru pada 2028.

Dengan jadwal gerhana yang padat dan bersejarah, periode 2026–2028 diproyeksikan menjadi salah satu puncak penting dalam sejarah pemantauan langit modern, sekaligus menarik minat astronom amatir, fotografer langit, wisatawan ilmiah, hingga masyarakat umum.