Tafsir Al-Hajj 30-31: Menjauhi Berhala

Tafsir Al-Hajj 30-31: Menjauhi Berhala Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.

Setelah Tuhan memaparkan kemuliaan “rumah”-Nya, sebagai sentral dalam ibadah, sebagai rumah yang dilindungi, agung, dan kharismatik, kini Tuhan melanjutkan paparan-Nya dengan woro-woro, bahwa barang siapa yang seirus memuliakan apa saja yang dimuliakan Tuhan, maka sesungguhnya dia berbuat yang terbaik yang manfaatnya untuk diri sendiri.

Begitu pandangan Tuhan Dzat yang maha terhormat menghormati hamba-Nya yang patuh, yang mau menghormati syari’ah-Nya, menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan. “... fahuwa khair lah ‘ind Rabbih”.

Dinyatakan, bahwa Ka’bah,, ini adalah rumah pertama yag dibangun di atas bumi. Ini menunjukkan bahwa Ka’bah adalah sebagian dari real estate surga yang ditransfer ke bumi. “awwal bait wudli’a li al-nas”, sehingga materialnya juga – sangat mungkin – sebagian bukan dari bumi, melainkan produk Sono. Pasti ajaib dan pasti istimewa.

Dialah Ricahrd Fransisco Burton, Arkeolog Eropa yang sangat masyhur dan punya banyak pengalaman tentang benda-benda aneh di bumi ini. Pada tahun 1853 dia berpura-pura muslim dan menunaikan ibadah haji. Tampilannya muslim yang shalih banget sehingga tidak satupun laskar Ka’bah mencurigai.

Berwaktu-waktu menetap di Makkah sambil menunggu momen yang tepat dan akhirnya berhasil mencuri . adalah batu kecil yang diletakkan dipojokan Ka’bah, rukun Yamani dengan kerangka khas. Hajar, artinya batu dan Aswad artinya hitam.

Katanya, awalnya hajar itu berwarna putih bersih, pualam putih nan indah. Sengaja ditaruh di bumi sebagai indikator, sekaligus memonitor yang sangat peka terhadap perbuatan manusia. Setiap kali manusia melakukan dosa, maka batu itu menghitam secara otomatis. Karena terlalu banyak dosa yang dilakukan manusia, maka menghitam dan makin menghitam.

Burton puas dengan hasil curiannya itu dan segera bergegas pulang. Di laboratorium dia dengan sangat teliti memeriksa batu itu. Tergolong jenis apakah batu ini, kok aneh. Semua literatur tentang perbatuan dibuka dan setelah sekian lama diperbandingkan, akhirnya dipastikan bahwa TIDAK punya kesamaan sifat maupun jenis dengan batu dunia.

Burton akhirnya memutuskan bahwa bukan batu dunia, bukanlah batu planet bumi ini. Richard Fransisco Burton akhirnya bersujud di hadapan Tuhan. Keimanan lewat ilmu sungguh menakjubkan dan nilainya sangat tinggi di hadapan Tuhan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO