Gus Lilur saat silaturahmi ke Menteri Agama, Nasaruddin Umar, di Jakarta. Foto: Ist
“NU ini kaya tokoh, jangan sampai yang tampil justru yang itu-itu saja karena faktor politik,” ucapnya.
Gus Lilur menekankan muktamar harus menjadi momentum pemurnian organisasi.
“Sudah saatnya kita bilang cukup pada pengurus yang haus kekuasaan. NU bukan batu loncatan politik. Kalau mau berpolitik, silakan di partai, jangan bawa-bawa NU,” katanya.
Ia mengingatkan independensi NU adalah kunci agar tetap menjadi penyejuk dan penuntun umat. Fokus muktamar, lanjutnya, harus kembali pada penguatan ekosistem intelektual, mulai dari pesantren, bahtsul masail, hingga pengembangan pemikiran Islam relevan dengan tantangan zaman.
“Kalau NU kuat di ilmu, otomatis akan dihormati. Tapi kalau NU sibuk di politik, lama-lama hanya akan diperalat,” tuturnya.
Di akhir pernyataannya, Gus Lilur menegaskan muktamar kali ini adalah ujian sejarah bagi NU.
“Ini bukan soal hari ini saja, ini soal masa depan NU dan umat. Kita mau kembali ke jalan ulama, atau terus terseret arus kekuasaan. Itu yang sedang dipertaruhkan,” pungkasnya. (mdr/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






