Kondisi jalan desa Banyuurip yang rusak parah akibat sering dilalui kendaraan berat milik PT GCI. foto: AHMAD/ BANGSAONLINE
"Adanya perbedaan perawatan masjid yang selama ini dibangun oleh perusahan. Dulunnya kata orang sini, pembangunan masjid dari Bina Patra," kata Arif
Sedangkan, saat KSO-nya PT GCI, Arif mengungkapkan, kini masjid tersebut sudah tak lagi diperhatikan. "Sarana dan prasarana masjid tidak diperhatikan oleh perusahaan. Seperti tembok mengelupas, air bersih yang sering mati dan atap masjid bocor karena lapuk dimakan usia," terang Arif.
"Kami juga khawatir keselamatan 63 santri yang belajar ngaji setiap sore di masjid ini," imbuh Arif.
Ia mengatakan, sekarang ini operasional masjid hanya diberi Rp 600 ribu per bulan. Rinciannya, Rp 400 untuk biaya perawatan dan Rp 200 ribu untuk bisaroh 5 guru ngaji. Untuk itu, ia berharap agar Pertamina atau KSO-nya lebih memperhatikan sarana dan prasarana masjid.
Dikonfirmasi terkait hal ini, Humas PT GCI, Sugiharto, tak menjawab. Dihubungi melalui ponselnya, yang bersangkutan tak mengangkat meski terdengar nada sambung. (ahm/wan/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




