Inilah Direktur TV Bondowoso yang Ditangkap Itu, ​Video Habib Rizieq dan Anti China Laris

Inilah Direktur TV Bondowoso yang Ditangkap Itu, ​Video Habib Rizieq dan Anti China Laris Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Ternyata konten Habib Rizieq dan anti Cina sangat diminati para konsumen youtube. Apakah karena itu direktur TV swasta di Bondowoso Jawa Timur itu ditangkap?

Simak tulisan wartawan terkemuka, Dahlan Iskan, di Disway pagi ini, Sabtu, 16 Oktober 2021. Atau baca di BANGSAONLINE.com di bawah ini. Khusus pembaca di BaBe, sebaiknya klik "lihat artikel asli" di bagian akhir tulisan ini. Tulisan di BaBe banyak yang terpotong sehingga tak lengkap. Selamat membaca:

ORANG-ORANG media heboh sendiri: siapa itu Arief Nurrohman? Direktur TV Swasta di Jatim? Yang ditangkap polisi Polda Metro Jaya?

Saya ikut heboh. Semua berita yang terkait dengan penangkapan itu saya baca. Sampai pun saya berkali-kali terkecoh. Terutama oleh judul berita yang menjanjikan sesuatu. Misalnya judul ini: Siapa Direktur TV yang Ditangkap itu. Saya pikir saya akan mendapat profil orangnya. Ternyata isinya sama saja dengan judulnya. Jadi, siapa yang ditangkap itu? Tidak terjawab. Isi berita itu ternyata memang ya pertanyaan itu.

“Oh… ternyata begitu ya wartawan online menulis berita” ujar saya dalam hati. Judulnya bertanya, isinya juga bertanya.

Maka kalau saya harus menelusurinya sendiri, itu karena saya benar-benar penasaran: siapa orang yang ditangkap itu.

Akhirnya saya tahu sedikit: ia orang Bondowoso. Namanya Arief Nurrohman.

Ternyata saya tidak punya cukup banyak teman di Bondowoso. Semua saya tanya: kenalkah orang itu. Jawab mereka: tidak.

Saya pun menghubungi sastrawan di Banyuwangi: Mas Udi. Siapa tahu ia punya teman di Bondowoso. Punya. Namanya Eko. Lengkapnya: Gugah Eko Saputro. Ia wartawan Radar Jember.

Saya telepon Mas Eko. Ternyata ia kenal orang yang ditangkap itu. “Seumur dengan saya,” ujar Eko. Berarti sekitar 35 tahun.

Kenal banget juga tidak. Arief orang Bondowoso. Eko orang asli Jember. Arief ternyata juga bukan wartawan.

Arief tinggal di sebuah desa, sekitar 7 Km dari kota Bondowoso. Tentu jauh sekali. Bondowoso saja jauh. Apalagi desa itu: Grujugan.

Di depan rumah Arief, kalau pagi, jadi pasar krempyeng.

Orang Bondowoso mengenal Arief sebagai pengusaha yang sukses –untuk tingkat lokal. Bisnisnya, ini dia: TV Kabel. Nama stasiun TV-nya: BSTV –Bondowoso TV. Saya cari di daftar anggota asosiasi TV lokal Indonesia. Tidak saya temukan nama itu.

BSTV adalah TV Kabel dalam pengertian yang sebenarnya –pelanggannya menarik program lewat kabel beneran.

Dengan berlangganan TV Kabel itu banyak sekali channel yang bisa dilihat. Tidak kalah dengan berlangganan Indovision atau Telkomvision. Program dari stasiun-stasiun TV Jakarta dan mancanegara bisa ditonton di Bondowoso. Termasuk siaran-siaran langsung olahraga dunia.

Perbedaan yang mencolok dengan Indovision adalah: uang langganannya murah sekali, Rp 15.000/bulan. Bandingkan dengan kalau berlangganan Indovision. Yang bisa mencapai Rp 250.000/bulan.

Orang Bondowoso sangat berterima kasih kepada Arief. Dengan Rp 15.000/bulan sudah serasa berlangganan Telkomvision.

Yang seperti itu juga pernah terjadi di banyak kota di luar Jawa. Seperti di Balikpapan. Tapi di Kaltim yang seperti itu dianggap melanggar UU. Lalu dilarang.

Saya belum berhasil menelusuri apakah yang di Bondowoso itu legal. Pun belum tahu seperti apa pula bentuk perizinannya. “Pelanggannya ribuan rumah. Termasuk rumah saya,” ujar Eko, yang juga alumni Unej.

Sebagai TV Lokal, BSTV juga punya channel berita lokal. Isinya: kegiatan Pemda, rumah sakit, DPRD, dan sejenisnya. BSTV juga mendapat iklan dari Pemda. Rutin. Ada kontraknya. Sekitar Rp 200 juta/tahun.

Menurut Eko, siswa-siswa SMK jurusan audio visual menjadi wartawannya.

Simak berita selengkapnya ...