Dahlan Iskan saat shalat jemaah bersama para ustadz dari Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo di sebuah masjid di Fuzhou Proivinsi Fujian Tiongkok. Foto: Disway
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Dahlan Iskan, tokoh pers yang juga mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Republik Indonesia dituding murtad gara-gara pidatonya yang mengaku menjadi anggota dan aktivis agama Budha Tzu Chi.
Agama kemanusiaan ini tidak ada sembahyang, doa dan juga tak ada tempat ibadah. Tapi menekankan pada kegiatan sosial, membantu orang tak mampu dengan semangat cinta kasih tanpa pandang ras, suku, etnis dan bahkan agama.
BACA JUGA:
- Dahlan Iskan Kunjungi Kota Pudak, Wakil Bupati Gresik Jabarkan Pelbagai Potensi Lokal
- Mabes Polri Hentikan Kasus Dahlan Iskan, Ini Kata Kuasa Hukumnya
- Kontroversi Dahlan Iskan Tersangka, Dr. Hufron: Penyidik Harus Cermat, Menyangkut Nasib Orang
- Ruwatan Negara 2025 Usung Tema Indonesia Mercusuar Perdamaian, Panitia Sowan ke Dahlan Iskan
Selain itu Dahlan Iskan juga diketahui membawa patung kecil dalam ritual di Klenteng. Dahlan Iskan juga ikut memikul tandu dewa di sebuah klenteng di Semarang. Tapi saat memikul tandu dewa itu Dahlan Iskan mengaku ingat kitab Arba’in (Kumpulan 40 Hadits). Dalam kitab kecil yang biasa diajarkan kepada anak-anak kelas 4 Ibtidaiyah (SD) itu ada Hadits: Innamal a’malu binniayah. Bahwa semua perbuatan tergantung pada niatnya.
“Niat apakah yang muncul di lubuk hati saya saat memandu Dewa Cheng Ho itu? Biarlah hanya saya dan arwah Cheng Ho yang tahu. Kalau Tuhan kan sudah Mahatahu,” tulis Dahlan Iskan.
Dalam narasi itu Dahlan Iskan tampak sadar bahwa ia ikut memikul tandu dewa itu bukan karena meyakini agama tersebut, apalagi pindah agama seperti dituduhkan kelompok takfiri (orang yang senang mengafirkan orang Islam karena beda pemahaman), tapi semata untuk menghormati dan kebersamaan.
Yang menarik, Dahlan Iskan tak memberi komentar apapun terhadap tuduhan murtad yang dilakukan para kelompok takfiri di berbagai channe YouTube.
“Kasus Pak Dahlan ini sama dengan kasus Gus Dur,” kata M Mas’ud Adnan dalam Podcast BANGSAONLINE di Channel YouTube berjudul: Dituduh Murtad, Dijawab Shalat.
Menurut Mas’ud Adnan, saat Gus Dur menjabat Ketua Umum PBNU, Presiden ke-4 Republik Indonesia itu sering dituding murtad, kafir dan sejenisnya. Tapi Gus Dur tak pernah menanggapi.
Tapi suatu saat ketika ditanya orang, Gus Dur sempat merespon santai. Gus Dur saat itu menunjuk kitab kecil yang biasa diajarkan kepada orang-orang NU di kampung atau di desa. Yaitu Kitab Sullamut Taufiq.
“Kan sudah ada dalam kitab Sullamut Taufiq,” kata Gus Dur.
Sullamut Taufiq adalah kitab kecil dan tingkat dasar yang membahas tentang aqidah, fiqh dan akhlak atau tashawuf.
Gus Dur kemudian mengutip Hadits yang artinya: Orang yang memvonis orang lain murtad atau kafir, padahal orang yang divonis atau dituduh murtad itu masih bersyahadat, maka tuduhan kafir dan murtad itu kembali kepada orang yang menuduh atau memvonis.
“Jadi orang yang menuduh murtad itu yang justru murtad,” kata Mas’ud Adnan.
Nah, dalam konteks Dahlan Iskan, tutur Mas’ud Adnan, kasusnya sama.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




