Dahlan Iskan. Foto: dok. pribadi
”Itu kalau renovasinya sukses. Ada renovasi rumah yang memakan waktu sampai tiga tahun. Masa jabatan pun keburu habis. Bahkan ada renovasi yang berhenti di tengah jalan: kehabisan biaya. Atau bertengkar dengan kontraktornya,” tambah Dahlan Iskan.
Menurut Dahlan Iskan, para petani Amerika bisa tergolong yang waswas. “Sejak perang dagang dengan Tiongkok banyak petani sudah di ambang bangkrut. Harga hasil pertanian jatuh. Tiongkok lebih memilih impor kedelai dari Brasil,” tulis Dahlan lagi.
”Waini, ''rumah'' para petani itu harus direnovasi. Yang merenovasi Trump. Mereka tidak menanggung biaya renovasi tapi merasakan ketidaknyamanannya. Apalagi kalau di tengah renovasi kelak, terjadi perkembangan baru: renovasi berhenti sebelum selesai,” tambahnya.
Di industri besar, tulis Dahlan, yang terjadi bukan renovasi. “Mereka seperti akan membangun rumah baru. Sangat besar. Sangat mahal. Padahal mereka sudah punya rumah yang lama yang tidak jelek,” tulisnya mengibaratkan.
Untuk mengulas bahwa membangun ''rumah'' baru seperti itu mereka akan berhitung lebih panjang. “Terutama dampak jangka panjangnya. Trump memang selalu membanggakan arus masuk investasi baru ke Amerika. Dari Hyundai, Honda, Apple, Chips, dari Taiwan, dan banyak lagi. Bertriliun-triliun dolar. Mereka akan membangun pabrik-pabrik raksasa di Amerika. Trump mengatakan mereka akan sangat bahagia karena tidak perlu lagi membayar bea masuk,” lanjut Dahlan Iskan.
Tapi ''kepastian jangka panjang'' akan menjadi dasar perhitungan mereka. “Sebelum benar-benar membangun pabrik mereka akan melakukan kajian: apakah kebijakan tarif tinggi itu akan permanen. Atau suatu saat akan berubah,” tulis Dahlan Iskan.
”Misalkan: tiba-tiba Kanada atau Meksiko menurunkan bea masuk. Apakah Amerika tidak berubah. Bahkan, misalkan empat tahun lagi bukan Trump yang jadi presiden. Bagaimana nasib investasi mereka,” tambah Dahlan Iskan.
Sikap gamang mereka itu, menurut Dahlan, sangat berpengaruh terhadap harga saham di pasar modal.
“Suasana ''wait and see'' seperti itulah yang membuat harga saham di pasar modal mereka melemah. Mereka menunggu kepastian yang lebih pasti,” tulis Dahlan.
Menurut Dahlan Iskan, sejarah mengapa Amerika menjadi negara kaya bukanlah karena di zaman dulu mengenakan tarif tinggi untuk barang impor.
”Amerika menjadi kaya karena diisi oleh imigran dari Eropa yang bekerja amat keras karena ingin kaya. Kalau mayoritas penduduknya ingin kaya negara akan menjadi kaya,” tulisnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




