ilustrasi
“Informasi yang masuk, semua korban dari kecil sudah doyan minum,” ujar perwira menengah dengan tiga balok di pundak tersebut.
Budiman, salah seorang warga Trompo Asri menyatakan, pesta miras yang berlangsung Selasa malam (13/12) diikuti lima orang. Selain keempat korban, satu orang lainnya adalah Feri. Dia merupakan warga Dusun Jangan Asem I, Trompo Asri. “Empat orang itu sedang merenovasi rumah Feri,” ungkapnya.
Feri merupakan seorang penjual miras. Menurut kabar yang beredar di masyarakat, pria 43 tahun itu adalah yang menyediakan miras kepada para korban. “Sebenarnya sering dirazia, tapi tetap saja berjualan. Mungkin hanya sidang tipiring, jadi tidak kapok,” ucap Subadri.
Nah, dugaan miras yang dikonsumsi tidak layak ditenggak dikuatkan dengan pengakuan kerabat Suliyanto, salah satu korban tewas. Sekitar dua jam sebelum meregang nyawa, korban diketahui meminta ibunya untuk menanyakan komposisi minuman yang diberikan Feri.
Menurut dia, korban merasa badannya terasa panas beberapa jam setelah mengkonsumsi miras. Padahal, Suliyanto mengaku hanya meminum sedikit.
“Bu, tolong takono Feri aku diombeni opo. Ngombe titik kok koyo ngene, opo mane Heri sing ngombe akeh (Heri Kurniawan, korban tewas lainnya),” katanya menirukan ucapan korban.
Menurut keterangan warga, miras yang dikonsumsi para korban adalah oplosan yang disiapkan Feri menjelang tahun baru. Miras jenis arak itu dioplos dengan serbuk pentol korek dan obat kuat.
Sampai saat ini keberadaan Feri masih misterius. Ketika didatangi polisi, keluarganya mengaku yang dicari petugas sedang dirawat di sebuah rumah sakit kawasan Pasuruan. Sebab, tubuhnya sangat lemas setelah mengkonsumi miras oplosannya sendiri. Matanya juga terasa kabur seperti empat korban tewas. Saat kami datangi, tempat tinggalnya juga tertutup rapat. (cat/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




