Selasa, 14 Juli 2020 08:17

Yuklayushi, Hakim Muda Inspiratif Asal Bangkalan yang Bercita-cita Jadi Ibu Rumah Tangga

Selasa, 30 Juni 2020 13:51 WIB
Editor: Revol Afkar
Wartawan: Subaidah
Yuklayushi, Hakim Muda Inspiratif Asal Bangkalan yang Bercita-cita Jadi Ibu Rumah Tangga
Yuklayushi Hakim Muda asal Kota Salak, Bangkalan.

BANGKALAN, BANGSAONLINE.com - Yuklayushi tak pernah berpikir akan menjadi seorang hakim. Perempuan 38 tahun asal Kabupaten Bangkalan ini mengaku saat kecil hanya bercita-cita jadi ibu rumah tangga, yang sibuk membesarkan anak dan mengabdi pada sang suami. Layaknya kebanyakan kaum hawa.

Dia pun bersyukur karena karirnya sebagai hakim saat ini moncer. Kini, dia menjadi salah satu hakim di Pengadilan Negeri Bangkalan, kampung halamannya.

Meski namanya tak seperti kebanyakan warga Madura, Yuklayushi memastikan bahwa dirinya asli warga Pulau Garam. "Nama saya memang khas laksana sebangsa keturunan Jepang. Padahal saya merupakan wanita muda asli kelahiran kota Dzikir dan Sholawat, pada 10 Februari 1982. Walaupun nama serupa orang Negeri Sakura, tapi saya Madura asli. Saya kelahiran Kabupaten Bangkalan, namun masa kecil dan remaja saya dihabiskan di ujung Madura, Kabupaten Sumenep," jelasnya kepada wartawan BANGSAONLINE.com, Selasa (30/6/2020).

Menjalani masa kecil di Sumenep, Yuklayushi mengawali pendidikannya di SD Bangselok I, kemudian lanjut SMPN 1 Sumenep, dan SMAN 1 Sumenep.

Ia menceritakan, perjuangannya meniti karir sebagai hakim tidak semudah yang dibayangkan kebanyakan orang. Banyak rintangan, tantangan, dan hambatan dalam perjalanan karirnya.

"Setelah lulus kuliah, saya menganggur selama tiga tahun, sambil mengikuti tes cakim (calon hakim). Alhamdulillah, setelah 3 tahun ikutan tes, saya berhasil lulus tes cakim," ujar alumni Universitas Brawijaya Malang ini.

Tiga tahun menjalani masa pendidikan cakim di Pengadilan Negeri Bangkalan, istri dari Mohammad Sukran Hijry ini mendapatkan penempatan tugas pertamanya di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

"Untuk tugas awal saya ditempatkan di Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan. Setelah itu saya mutasi ke PN Sumenep selama 3 tahun 3 bulan. Alhamdulillah, sekarang kembali lagi bertugas di PN Bangkalan hingga saat ini," jelasnya.

Yuklayushi mengaku sangat bersyukur dengan profesi yang dijalaninya saat ini. Dengan menjadi seorang hakim, dia ingin berbagi ilmu yang bermanfaat untuk orang lain, termasuk instansinya, serta bangsa, dan negara.

"Karena sebaik-baiknya orang adalah yang bermanfaat untuk orang lain, dan amal jariyah salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Jadi insya allah saya mendapat dua duanya," ungkapnya.

Dalam kesempatan ini, Yuklayushi juga menceritakan suka duka yang dialaminya selama menjadi hakim. Antara lain, takut bersikap tidak adil jika ada pihak yang merasa didzolimi. Namun dia menyadari, bahwa dalam memberikan putusan pasti ada pihak yang tidak puas.

"Oleh karenanya, saya selalu berdoa kepada Allah, semoga Allah selalu melindungi, menyelamatkan saya dalam melaksanakan tugas. Aan alhamdulillah pertolongan dan perlindungan Allah nyata kepada saya, dan seiring berjalannya waktu saya bisa melaksanakan tugas ini dengan penuh tanggung jawab," jelas ibu dari 3 anak ini.

Duka lainnya sebagai seorang hakim adalah, bahwa profesi ini mengharuskannya berpindah-pindah tempat tugas. "Saya 3 tahun di Enrekang, 3 tahun di Sumenep. Saya sebut itu duka, karena selama bertugas di luar Jawa saya berjauhan dengan keluarga," jelasnya.

Namun, dikatakannya bahwa dengan berpindah tempat tugas tersebut, ia dapat mengenal kearifan lokal daerah setempat, serta memiliki banyak kenalan dan momen bahagia saat bertugas.

"Dengan menjadi hakim kita harus siap, suka tidak suka harus siap ditempatkan di seluruh wilayah NKRI. Dan saya teringat nasihat almarhum Pakde saya yang mengatakan "selama bertugas di bumi Allah, insyaallah selamat dan bisa hidup"," terangnya.

Yuklayushi menambahkan, bahwa hakim merupakan pekerjaan yang sangat berisiko, baik di dunia maupun di akhirat. "Karena Hakim adalah wakil Tuhan sesuai dengan Q.S. Shad 26. Suatu kedudukan yang amat mulia, namun sangat besar risikonya kelak di akhirat, karena atasan hakim adalah Tuhan Yang Maha Esa," pungkasnya. (ida/uzi/rev) 

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Rabu, 11 Maret 2020 22:53 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Keindahan alam di Jawa Timur adalah potensi wisata yang luar biasa. Salah satunya, Taman Wisata Genilangit di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan. Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa datang langsung ke ikon wisata di...
Jumat, 10 Juli 2020 21:04 WIB
Oleh: Ibnu Rusydi Sahara*“Sampean dari Surabaya?” Teman saya kerap menerima pertanyaan itu, manakala turun dari bus antarkota yang membawanya dari Surabaya di beberapa kota di Jawa Timur. Yang bertanya tukang ojek. Yang biasa mangkal di sep...
Senin, 13 Juli 2020 23:23 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*25. Walabitsuu fii kahfihim tsalaatsa mi-atin siniina waizdaaduu tis’aanDan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.26. Quli allaahu a’lamu bimaa labitsuu lahu ghaybu als...
Senin, 13 Juli 2020 22:40 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat...