Kepala DLH Gresik, Sri Subaidah (kanan), saat mengikuti pertemuan di Balai Desa Roomo pasca terjadi kebocoran di PT Linde Indonesia. Foto: Ist.
"Mesin sempat mati untuk maintenance. Pada 25 Juli sekitar pukul 04.45 WIB, kami mulai melakukan pemanasan (warming up). Di tengah proses itu, insiden terjadi selama sekitar 15 menit pada pukul 19.45 pada tanggal 29 Juli 2025 lalu," ujarnya saat memberikan keterangan kepada wartawan.
"Saat insiden terjadi, operator langsung lari ke ruang kontrol untuk melakukan prosedur darurat. Sehingga, saat itu menimbulkan debu perlite yang membumbung tinggi seperti asap. Karena, material perlite yang digunakan dalam proses sebagai bahan isolasi untuk menjaga suhu dalam sistem produksi coldbox," imbuhnya.
Atas kejadian yang menimbulkan korban warga sekitar, Andita menyatakan pihak perusahaan bertanggung jawab terhadap seluruh biaya pengobatan korban hingga kompensasi yang akan diberikan.
"Kami bertanggung jawab dan menanggung seluruh biaya perawatan medis. Ada 7 orang warga yang terdampak untuk mendapatkan penanganan di Rumah Sakit Petrokimia Gresik. 6 orang di antaranya kemarin sudah dipulangkan, tapi masih ada satu orang perempuan usia 17 tahun yang masih dirawat untuk diobservasi," tandasnya.
Ditambahkan Andita, pertanggungjawaban yang dilakukan perusahaan terkait insiden sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat bersama warga terdampak saat dilakukan pertemuan di Balai Desa Roomo pasca terjadi kebocoran.
"Untuk jumlahnya tengah dikoordinasikan, kita masih menunggu arahan dari pihak desa," jelasnya.
Menurut Andita, debu yang ditimbulkan dalam insiden kebocoran adalah perlite, sejenis silika berbentuk pasir, yang digunakan sebagai bahan isolasi atau insulation.
"Perlite itu seperti pasir silika dan debu biasa. Tidak berbahaya, kalau terhirup bisa menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan atau jadi iritasi," tandasnya. (hud/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






