Program Pengentasan Pengangguran dan Kemiskinan di Gresik Lamban

Program Pengentasan Pengangguran dan Kemiskinan di Gresik Lamban Salah satu industri yang berdiri di Kabupaten Gresik. foto: syuhud/ BANGSAONLINE

GRESIK, BANGSAONLINE.com - Masih tingginya angka pengangguran dan angka kemiskinan di Kabupaten Gresik menunjukkan kalau program pengentasan kemsikinan dan pengurangan angka pengangguran lamban.

Hal ini disebabkan Pemkab Gresik kurang memiliki keberanian lakukan gebrakan untuk menjalankan program. Terlebih Disnakertrans (Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi), Dinsos (Dinas Sosial), Bapemas (Badan Pemberdayaan Masyarakat) dan Bappeda (badan perencanaan pembangunan daerah).

"Memang kami akui program yang dijalankan pemerintah dalam memberantas angka kemiskinan dan pengangguran lamban," kata Wakil Ketua DPRD Gresik, Hj. Nur Saidah, kemarin.

Karena itu, lanjut Nur Saidah pada pembahasan KUA (Kebijakan Umum Anggaran) PPAS (Prioritas Plafo Anggaran Sementara) tahun 2017, menjadi atensi khusus. "Kami akan alokasikan anggaran besar untuk dua program tersebut," jelasnya.

Sementara Kepala Kepala Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Pemkab Gresik, Ir. Tugas Husni Syarwanto MT membenarkan, angka kemiskinan dan pengangguran di Kabupaten Gresik terhitung hingga akhir tahun 2015, masih tinggi. "Untuk angka kemiskinan masih tembus 13,48 persen. Sedangkan angka pengangguran masih tembus 4 persen lebih," ujar Tugas, Selasa (16/8).

Tugas juga mengakui, kalau angka kemiskinan di Gresik terbilang tinggi dibandingkan daerah lain, seperti Mojokerto, Sidoarjo, Madiun, dan Malang. "Kami tetap berupaya menekan angka kemiskinan dan pengangguran," jelasnya.

Merujuk draft RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Pemkab Gresik tahun 2016-2021, pada sektor programpengentasan kemiskinan, Kabupaten Gresik telah meraih progress yang positif dengan penurunan tingkat kemiskinan secara bertahap.

Penurunan secara stabil tersebut masih menunjukkan capaian basis point yang rendah atau dapat istilahkan mengalami perlambatan penurunan. Penyebab kondisi ini diestimasikan karena kondisi kemiskinan Kabupaten Gresik yang memasuki level kronis. "Sehingga membutuhkan program yang baik untuk mengatasinya," kata Tugas.

Dilihat dari data kemiskinan yaitu persentase penduduk miskin yang berada di bawah garis kemisikinan, jumlah penduduk miskin sebanyak 181.700 jiwa pada tahun 2011 menurun 14.750 jiwa hingga menjadi 166,950.00 jiwa pada tahun 2014.

Adapun Indeks Kedalaman Kemiskinan yaitu ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan.

Bila indeks kedalaman kemiskinan semakin menurun artinya rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin semakin menyempit.

Sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin.

Merujuk Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Gresik Tahun 2010-2030 rencana peruntukan penggunaan lahan di Kabupaten Gresik adalah sebagai berikut:

a. Kawasan peruntukan hutan produksi 1.017 hektar.

b. Kawasan peruntukan pertanian 42.831,843 hektar.

c. Kawasan peruntukan perikanan 21.678,358 hektar.

d. Kawasan peruntukan pertambangan 817.249 hektar.

e. Kawasan peruntukan industri 12.448,026 hektar.

f. Kawasan peruntukan pariwisata 82.851 hektar.

g. Kawasan peruntukan permukiman 26.097,091 hektar.

h. Kawasan andalan 8.555 hektar.

i. Kawasan peruntukan lainnya 6.644,010 hektar.

Untuk sektor industri, pada tahun 2015 tercatat 6.653 tahun 2015 skala kecil dan besar.

Dalam Bidang Perdagangan, penerbitan SIUP(surat izin usaha perdagangan) meningkat 19,6persenpada tahun 2015 atau sebanyak 264 SIUP. Penerbitan SIUP pada tahun 2015 sebanyak 1.612 SIUP sedangkan tahun 2014 sebanyak 1.348 SIUP.

Hal ini selaras dengan penyerapan tenaga kerja pada tahun 2015 yang tercatat sebanyak 175.131 orang atau mengalami peningkatan sebesar 26 persendengan pertambahan penyerapan sebanyak 36.128 jiwa dari penyerapan tenaga kerja pada tahun 2014 yang mencapai 138.955 jiwa.

Sedangkan nilai investasi perdagangan pada tahun 2015 mencapai Rp19,766,408,000.00 atau mengalami pertumbuhan 185 persen sebanyak Rp 12,829,886,000.00 dari nilai investai pada tahun 2014 yang mencapai Rp 6,936,522,000.00. (hud)